Membangun Eksistensi Kader Dengan Keshalehan Sosial.
By: Abdullah ‘Reza’ Silalahi*
Demi masa(1). Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian(2), kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh dan nasihat menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran(3). (Al-‘Ashr-1-3)
Tulisan ini saya peruntukkan bagi mereka-mereka yang sudah pernah mengecap manis-pahitnya sebuah pengkaderan awal di Organisasi Dakwah Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia, baik kepada mereka yang berkontribusi aktif, maupun yang pasif. Yang pasti kalian telah tergabung dalam sebuah komunitas gerakan pembaharuan dibawah panji-panji kebenaran yang mencita-citakan lahirnya sebuah negeri yang mulia dan dimuliakan. Apapun yang kita lakukan ketika sudah bergabung dan tercatat menjadi seorang kader dakwah dalam wajihah perjuangan KAMMI, semuanya adalah berangkat atas dasar kesadaran dan kemauan kita pribadi. Kalaupun ada unsur tendensi dan intervensi dari pihak lain, yang pasti aktif dan tidaknya kita hingga detik ini merupakan sebuah pilihan. Berbahagialah mereka-mereka yang membuat pilihan dan menjadi pilihan.
Mudah-mudahan ada sebuah pencerahan kesadaran akan urgensi hadirnya kita dimuka bumi ini, dan terlebih dengan bergabungnya kita dalam barisan perjuangan dakwah ini, semoga senantiasa memberi sumbangsih yang lebih untuk kemashlahatan ummat baik sekarang maupun yang akan datang. Karena bagaimanapun kita hidup ditengah-tengah keramaian makhluk, yang membutuhkan uluran tangan untuk menunjukkan jalan kebenaran dan membatasi gejolak-gejolak kebhatilan. Kita harus menyadari bahwa tidak cukup hanya dengan keshalehan pribadi untuk membentuk sebuah cita-cita peradaban islam, tidak cukup hanya dengan keshalehan individu untuk menyongsong indahnya syurga yang dijanjikan. Inilah yang diperintahkan Allah.SWT dengan mengajak kita untuk berdakwah seperti yang dijelaskan pada Al-Qur’an Ali Imran:104 ;
“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebaikan, memerintahkan kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar.”
Jika kita mencoba mendalami makna ayat diatas, maka kita akan menemukan sebuah pencerahan yang luar biasa bahwa sungguh begitu mulianya menjadi orang-orang pilihan, seperti halnya keberadaan kita sebagai Kader KAMMI. Keterlibatan kita dalam wasilah dakwah ini adalah pilihan Allah.SWT dan merupakan sebuah perjuangan yang mulia dan dimuliakan, dimana Allah SWT telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan syurga sebagai imbalannya.
Perjuangan ini tentunya tidak mengenal sikap ikut-ikutana dan keragu-raguan, ia hanya mengenal satu sikap tegas, yakni totalitas. Siapa yang bersedia untuk itu, maka ia harus hidup bersama dakwah dan dakwah pun ikut melebur di dalam kepribadiannya. Sebaliknya, kepada mereka yang berat dan terpaksa dalam memikul beban ini, akan terhalang dari pahala besar “Syurga” yang dijanjikan Allah.SWT, dan tertinggal bersama orang-orang yang berpangku tangan, dimana orang yang bergerak tidak akan sama nilainya dengan orang yang berdiam diri dalam pandangan Allah.swt. Yang pasti, Allah swt. akan mengganti mereka dengan generasi lain yang lebih baik dan yang sanggup memikul beban perjuangan da’wah ini, dimana Allah akan mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya.
“Katakanlah, ‘inilah jalanku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujah yang nyata.’ Mahasuci Allah, dan aku tidak termasuk orang-orang yang musyrik.” (Al-Qur’an Yusuf : 108).
Ketika kita telah ber-azzam untuk terlibat dalam wasilah perjuangan dakwah ini (baca KAMMI), maka sekali-kali jangan pernah ragu untuk melangkah dan berkarya, dan bertawakkal-lah kepada Allah.swt, agar kita diberi petunjuk yang nyata.
Pada era modern sekarang ini, ada suatu pembalikan kultur dan pemahaman dari apa yang pernah diperjuangkan oleh baginda Rasulullah.SAW, entah ini merupakan suatu keterbelakangan ataupun suatu masa yang mengalami kemunduran, kembali ke jahiliyah seperti halnya sebelum Nabi Muhammad.SAW diutus kemuka bumi ini. Yang pasti pembalikan kultur dan pemahaman itu adalah suatu tradisi yang memutus rantai kebenaran dengan berlomba-lomba dalam hal kebathilan. Kita bisa melihat dengan jelas, bahwa perilaku manusia saat ini memiliki kecendrungan yang mengarah pada perilaku keserakahan dalam memenuhi nafsu-nafsunya, serta terang-terangan menunjukkan perilaku yang tidak manusiawi menjadi suatu kebiasaan yang terpuji. Kepada mereka yang masih memiliki naluri dan hati nurani, akan merasakan bahwa ada suatu kejanggalan pada tradisi yang berlangsung saat ini dengan apa yang diyakininya sebagai pedoman kehidupan ummat yang hakiki, yakni Islam. Rasulullah.SAW pernah menegaskan bahwa tanda-tanda orang yang beriman setidaknya memiliki rasa kecemasan atas kebathilan yang sedang terjadi disekitarnya. Jika tanda ini masih ada hinggap didalam diri kita berarti kita masih beruntung dan merupakan orang-orang yang beriman.
Menjadi orang yang beruntung dalam hal ini meyakini dan menerapkan nilai-nilai Islam pada seluruh dimensi kehidupannya memang merupakan pilihan setiap orang, tetapi menjadi pertanyaan besar, beruntung yang seperti apakah yang senantiasa dipilih setiap orang jaman sekarang.? Allah.swt melalui Qur’an surah Al-‘Ashr menegaskan bahwa manusia pada umumnya selalu dalam kerugia, hal ini terjadi akibat kesalahan dalam memilih jalan yang diyakini yakni tidak beriman dan tidak mengerjakan amal shaleh. Pada surat Al-‘Ashr terdapat penegasan bahwa tidak ada pengecualian bahwa manusia itu akan selalu merugi. Ungkapan ini terlebih dahulu diawali oleh sumpah yang disampaikan Allah.swt dengan kalimat “demi masa”, oleh para ulama mengungkapkan bahwa masa atau waktu disini diartikan ‘al waktu huwal hayat’ waktu adalah kehidupan itu sendiri. Maka demi kehidupan yang kita lalui sejak masa kelahiran hingga pada detik-detik sekarang ini, seluruh manusia ditakdirkan akan selalu dalam kerugian. Maha Suci Allah yang memberikan gambaran hidup bagi orang-orang yang mau beruntung.
Demi masa(1). Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian(2)
— — —
Kcuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh dan nasihat menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran(3).(Al-‘Ashr)
Dan ternyata Allah.swt tidak begitu saja menyudahi surat Al-‘Ashr tersebut sampai pada ayat kedua saja, dengan ke-Maha Kemurahan Allah.swt kemudian menyambung ayat tersebut dan sekaligus memberi kabar gembira bagi kaum muslimin yaitu kaum yang beriman, dalam ulasan ini saya menyebutnya ‘orang-orang pilihan’ atau ‘orang-orang beruntung’. Ayat ketiga tersebut adalah “kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh dan nasihat menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran”.
Pada ayat ketiga ini terdapat dua point penting yang akan menjadi landasan eksistensi kita dalam perbaikan tatanan sosial, bahwa orang-orang pilihan (kader dakwah) tidak cukup hanya beriman saja, tetapi ada penambahan beramal shaleh serta saling menasihati dalam kesabaran dan kebenaran. Beriman disini hanya membuahkan keshalehan individual saja, sedangkan ‘orang-orang pilihan’ yang disampaikan pada ayat ini adalah mereka yang memiliki keshalehan sosial juga, mentransformasi keshalehan pribadinya kepada masyarakat sekitar, yakni; dengan mengerjakan amal shaleh (Aktifitas Sosial) dan saling menasihati supaya menaati kebenaran dan kesabaran (Penyeruan). Secara perintah - Allah.swt menegaskan bahwa kerja-kerja sosial pada ayat ini cukup besar, hal inilah yang apabila dilakukan oleh seluruh kaum muslimin dimuka bumi ini akan menciptakan ‘peradaban yang hakiki’ dimana akan terbebas dari sumpah Allah.swt bahwa manusia itu senantiasa berada dalam kerugian.
Disinilah kesadaran akan sebuah eksistensi dituntut penuh, bahwa tidak ada toleransi bagi sebuah kebathilan, dan dengan tegas harus berani tampil ditengah-tengah publik yang kian hari semakin jauh dari nilai-nilai keislaman. Inilah tugas-tugas dakwah kita yang harus terus diperjuangkan hingga setiap masyarakat dapat menikmati keindahan dan kebahagiaan Islam. Setiap kader harus mulai menunjukkan sosok kepribadian muslimnya diranah publik, bukan semata-semata sebagi simbol kesombongan tentunya, tetapi harus memberikan dampak positif bagi setiap kondisi dan permasalahan yang ada. Pengakuan bahwa; Ana abdullah, ana muslim, ana kader KAMMI, ana du’at qabla kulli syai’, tidak perlu malu untuk mengungkapkannya dimana pun kita berada, karena kita harus bersaing dan bahkan melakukan pergulatan eksistensi dengan pelaku-pelaku kemaksiatan yang dengan bangga dan sombongnya menyebut dirinya sebagai ‘anak gaul’ pemuda-pemuda masa kini.
Setiap kader harus berani tampil memperbaiki setiap permasalahan moral yang ada dilingkungannya dengan menjadi figur yang fokal dan berpengaruh, ini adalah tuntutan realita yang segera harus kita penuhi. Bahkan, jika diesok hari kader KAMMI diminta untuk tampil sebagai Presiden Republik Indonesia, maka pantang bagi dirinya untuk berkata tidak, karena menjadi pemimpin adalah keniscayaan dalam Islam dan bukan suatu perbuatan yang ditentang maupun dilarang, disamping itu kita harus tetap menyakini bahwa kepemimpinan adalah strategi perjuangan KAMMI. Apalagi tuntutan itu hadir pada jabatan-jabatan publik yang ada ditengah-tengah aktifitas kita sekarang ini, maka eksistensi setiap kader harus terus dibangun dan dikembangkan guna penyebaran keshalehan-keshalehan individu dengan karakter ke-KAMMI-an yang dimiliki. Karena tugas kita adalah melakukan pembaharuan kondisi ummat ini dengan mengembalikannya kepada jalan kemuliaan yang dibangun dan dibina baginda Rasulullah.Saw tanpa meninggalkan nilai-nilai perkembangan zaman. Itulah cita-cita peradaban yang akan kita wujudkan bersama-sama dengan penyebaran nilai-nilai keshalehan yang kita miliki. Wallahu a’lam bisshawab, semoga bermanfaat. []
“Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang gaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan”.(QS-9:105)
*Penulis adalah Ketua Umum KAMMI UNPAD 2006-2007, dan Sekretaris Umum KAMMI Daerah BANDUNG 2007. Email: rezacomplex@gmail.com / http://www.al-reza.co.nr