Momentum 62 Tahun kemerdekaan NKRI seharusnya dijadikan sebagai muhasabah diri oleh para pemimpin-pemimpin negeri ini. Jikalau Indonesia tahun ke 61 dan tahun ke 62 sama-sama saja, maka posisi kita sudah jelas berada pada kesia-siaan atau merugi, seperti halnya dijelaskan dalam surat al-asry, kecuali orang-orang yang beriman.
Sudah menjadi kesepakatan, bahwa peran pemimpin dalam merubah suatu keadaan sangat besar, walaupun memang tidak mutlak. Dan sebaliknya, sebesar apapun ketegasan pemimpin dalam melakukan perubahan, apabila kondisi masyarakatnya tidak berkehendak akan sulit juga. Oleh karena itu, titik tolak permasalahan MORAL menjadi fokus utama dalam setiap perubahan. Disinilah ikatan bathin antara pemimpin dan yang dipimpin akan terasa mengalir apabila kondisi ke-moral-an tadi sama-sama baik.
Pemimpin-pemimpin kita dinegeri ini memang sudah cukup banyak melakukan berbagai perubahan, hanya saja permasalahan yang mendasar adalah Perubahan yang dilakukan berbasis Ekonomi, sehingga fokus yang ada hanya pada keuntungan untuk pribadi, (Profit Oriented). Ini menjadi masalah yang besar apabila setiap kepala pemerintahan ataupun pegawai pemerintahan sudah menerapkan basis Ekonomi adalah teori yang sangat cocok dalam setiap Perubahan.
Nah, perubahan yang diinginkan dalam negeri ini adalah Perubahan yang berbasis Nurani, bagaimana melakukan perubahan dengan keterpaduan antara Moral dan Amal, sehingga orientasi utama adalah keuntungan pahala, bukan sebatas materi belaka. Pertanyaannya, seberapa besarkah pegawai pemerintahan negeri ini yang mau mengurusi setiap pekerjaannya dengan mengedepankan amal tanpa menuntut imbalan lebih..? Maka.., saya jadi terfikir, lebih baik negara ini diurusi oleh anak-anak muda, seperti kader-kader KAMMI yang bergerak tanpa tuntutan imbalan. Semoga basis perubahan tadi bertahan sampai pada posisi kita memimpin negeri ini, amiin.
Wallahu a’lam bissawab. Ketua KAMMI Unpad 06-07
