SELAMAT DATANG PARA PEWARIS NEGERI..!
Oleh: Abdul “Reza” Silalahi.*

 

”Pangkal segala pendidikan karakter ialah cinta akan kebenaran dan berani mengatakan salah dalam menghadapi sesuatu yang tidak benar. Pendidikan ilmiah pada perguruan tinggi dapat melaksanakan pembentukan karakter itu, karakter ilmu wujudnya mencari kebenaran dan membela kebenaran”. (Mohammad Hatta).

 

Identitas Baru Untuk Mahasiswa Baru

Berbicara identitas Mahasiswa, tidak bisa kita pisahkan dari identitas Pemuda. Tidak dapat disangkal, bahwa eksistensi pemuda dalam kehidupan ini amat penting, karena merekalah yang memiliki potensi untuk mewarnai perjalanan kehidupan ini, serta menggoreskan sejarah dalam setiap masa. Mahasiswa merupakan asset berharga untuk negeri ini, sedikit alasan dikarenakan peran dan perjuangannya untuk perubahan bangsa ini cukup besar. Banyak sebutan-sebutan yang disandangkan bagi mahasiswa, seperti “Agent of change”, “director of change”, “creative minority”, “Agent of Social Control”, “Agent of Development”, “calon pemimpin bangsa”, “Pewaris Negeri” dan lain sebagainya. Kontribusi pemuda atau mahasiswa yang diberikan untuk perkembangan negeri ini cukup tinggi. Mereka senantiasa harus memberikan segenap tenaga dan pikiran untuk sebuah nilai yang positif. Tetapi semua itu tidak melunturkan semangat mahasiswa dalam mewujudkan segala cita-citanya. Berbicara mahasiswa berarti kita tengah membicarakan suatu kelompok masyarakat yang sadar dan tersadarkan.(?) Suatu kelompok masyarakat yang sesungguhnya memiliki peran sangat penting dalam dinamika sosial suatu masyarakat. Disebabkan oleh beberapa kualitasnya yang spesifik, tampil sebagai suatu lapisan masyarakat yang berorientasi kedepan, maka sebagai sebuah konsekuensi, mahasiswa memiliki suatu posisi sosial tertentu dan sangat independent dalam masyarakat.

Mahasiswa atau pemuda juga merupakan bagian dari makhluk sosial yang tak terpisahkan dari interaksi sosial sekitarnya. Disamping semangat yang cukup tinggi, maka tantangan dihadapi juga tidak sedikit. Manusia secara fitrah dan naluri menghajatkan sentuhan sosial untuk berbagai kebutuhan dasar kehidupan. Kesejahteraan, kecukupan hidup, rasa keamanan, perlindungan terhadap hak milik, dan hak asasi adalah contoh kebutuhan sosial yang tidak terelakkan, siapapun pasti mengakuinya. Manusia dimanapun tempatnya, dan apapun agamanya, senantiasa akan memerlukan interakasi sosial yang saling memberi, saling membantu dan saling memaafkan. Yang jadi permasalahan adalah banyak perubahan-perubahan sosial yang harus dihadapi oleh kaum muda atau mahasiswa saat ini bertentangan dengan nilai-nilai idealisme yang ada.

Identitas baru untuk para pewaris negeri ini, Identitas ini bukanlah sekedar identitas, yang hanya difungsikan untuk menjalankan rutinitas akademik dan kerap digunakan untuk hal yang kurang bermanfaat, berhura-hura, bergaya-gaya dan lainnya. Identitas tersebut harus dapat kita buktikan Orisinalitas-nya kepada masyarakat. Kesadaran yang penuh harus kita wujudkan dalam pembuktian Identitas ini, karena dengan sandangan Identitas Mahasiswa banyak hal yang bisa kita perbuat untuk diri, keluarga, masyarakat dan Peradaban ini.

 

Mahasiswa dan Pemuda, bagian yang tak terpisahkan.

Sebelumnya Istilah Mahasiswa ini hanyalah menggambarkan komunitas yang hanya berkutat dalam ritual Akademik saja. Istilah mahasiswa menjadi populis dan bersifat politis ketika mahasiswa membuat sebuah komunitas sendiri dalam usaha melengserkan pemerintahan Bung Karno saat itu (Orde Lama, red) yaitu berupa Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI), setelah itu barulah bermunculan gerakan-gerakan mahasiswa lainnya seperti yang ada saat ini, HMI, PMII, IMM, KAMMI dan lainnya. Pada awal perjalanan sejarahnya, ungkapan Mahasiswa ini tidak begitu lazim dikenal di masyarakat dunia politik dan dunia pergerakan, yang dikenal pada saat itu adalah “pemuda”. Dimana para kalangan pemuda pada awalnya telah mencatat Sejarah untuk Kemerdekaan Negeri ini. 28 Oktober 1928 telah menjadi hari yang sangat penting bagi kaum pemuda Indonesia, yang dikenal dengan hari “Sumpah Pemuda”. Hingga akhirnya pada tahun 1945 “Soekarno – Hatta” membacakan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia (17 agustus, Red) dimana hal ini terlaksana akibat dari tuntutan para pemuda pada saat itu. Pada tahun 1966 presiden Soekarno yang pada waktu itu dinobatkan sebagai Presiden seumur hidup terpaksa melepaskan jabatan dari Presiden Republik Indonesia, lagi-lagi dengan perjuangan yang dilakukan oleh para Pemuda juga. Dengan lengsernya Orde Lama dan digantikan oleh Orde Baru, maka pada saat itulah Istilah Mahasiswa mulai populis dikalangan Masyarakat dunia politik dan dunia pergerakan Indonesia.

Maka identitas Mahasiswa tidak bisa kita lepaskan dari Identitas Pemuda, dan hal ini merupakan gambaran bagi kita yang baru menyandang gelar mahasiswa. Orde baru yang dimotori oleh Pak Harto pasca lengsernya Kekuatan Orde Lama, mulai menjalankan roda pemerintahannya dengan sebuah upaya koreksi dari pemerintahaan sebelumnya. Orang-orang yang turut bermain dimasa orde baru mulai dari era’66 seperti Cosmas Batubara dkk, hingga periode ‘70an seperti Akbar Tanjung dkk. Awal tahun 1978 terjadi Demonstrasi besar-besaran atas penolakan Soeharto sebagai Presiden RI untuk masa jabatan tahun 1978 sampai 1983, namun rezim Orde baru untuk saat itu terlalu kuat untuk dilengserkan. Akhirnya pada tahun 1998 Orde baru yang dimotori oleh pak Harto menyerah juga. Sampai ke pemerintahan Gusdur yang dikenal dengan masa Reformasi juga diturunkan oleh mahasiswa melalui tekanan-tekanan moral yang dilandasi kekuatan idealisme. Sayangnya pada pemerintahan Mega-Hamzah koreksi Mahasiswa terhadap pemerintahan saat itu kurang beraksi dengan cepat, akhirnya bu’ Mega dan pa’ Hamzah yang dicap dengan pemerintah yang membohongi “Wong Cilik” menikmati kepengurusannya di bangku pemerintahan sampai akhir jabatan.

“Beberapa kalangan aktivis mahasiswa sebenarnya tidak sepakat kalau gelar MAHASISWA ini disandang dalam kehidupan keseharian, karena kata-kata MAHA tersebut, hanyalah pantas dan paling sesuai jika diungkapkan kepada Sang-Pencipta”.

Begitulah sejarah yang dicatat oleh Mahasiswa untuk Negeri ini, yang sampai detik ini memang belum melahirkan Pemimpin yang mengerti dan paham akan hati nurani rakyatnya. Semua perubahan tersebut adalah buah perjuangan yang dilakukan oleh Mahasiswa dengan berbagai Gerakan Mahasiswa-nya. Gerakan tersebut adalah gerakan Moral dan gerakan Spontan yang dilandasi oleh semangat dan Idealisme yang tinggi, seperti dikatakan oleh Hariman Siregar dalam bukunya ‘Gerakan Mahasiswa Pilar ke 5 Demokrasi’ Bahwa Gerakan Mahasiswa memiliki ciri sebagai berikut : Bersifat spontanitas dan non struktural, independen (bukan agen Politik) dan memiliki jaringan luas. Maka dari itu, sudah saatnya sebagai mahasiswa yang memperoleh identitas baru segera bergerak, melangkah kedepan membuat sejarah dan menggoreskan perubahan, bukan sekedar menyandang identitas sebagai mahasiswa yang dibubuhi kesibukan Akademik. Karena kampus bukanlah masyarakat sebenarnya (real society) tetapi merupakan masyarakat semu (virtual society) yang harus kita manfaatkan sebagai wadah pembelajaran sebelum kita menikmati masyarakat yang nyata kedepan. Disini kita bisa berdialektika guna menghasilkan sesuatu yang bermanfaat.

Seperti ungkapkan Mohammad Hatta diatas, buah dari pembelajaran dikampus adalah menciptakan insan-insan yang cinta akan kebenaran dan berani mengatakan salah dalam menghadapi sesuatu yang tidak benar. Semoga kita termasuk dalam golongan yang membela kebenaran, menegakkan yang haq dan memerangi yang bathil. Amien!. WallahuA’lam Bishowab.

* Ketua KAMMI-UNPAD ‘06-07.