Mau dibawa kemana JATINANGOR..?
"Jatinangor Antara Kota dan Desa"
![]()
Jatinangor, sejak tahun 2000 dulu saya sudah mengenal nama ini, tepatnya ketika mengetahui bahwa kampus II Universitas Padjadjaran berada didaerah ini. Sebelumnya saya juga pernah menginjakkan kaki pada akhir tahun 2001, namun hanya sebatas waktu yang cukup singkat, hanya 1 (satu) minggu. Dan akhirnya sampailah pada tahun 2003, dimana saya memperoleh satatus gelar sebagai Mahasiswa, disinilah awal sejarah menjadi bagian dari Jatinangor. Itulah urutan waktu mulanya saya menjadi bagian dari masyarakat “Jatinangor”.
Jatinangor merupakan desa dalam kecamatan yang bukan di Bandung tetapi memang masih di Jawa Barat, sebab jika kita amati dari tata letak wilayah daerah Jawa Barat, khususnya perbatasan antara Bandung dengan Sumedang, memang Jatinangor merupakan salah satu kecamatan desa yang terpinggir dari pusat kota kabupaten Sumedang. Jjatinangor yang saya diami sekarang ini adalah sebuah “Kawasan Pendidikan”, dimana tata wilayahnya dipenuhi beberapa kampus-kampus yang cukup besar, seperti STPDN, IKOPIN, UNWIM, dan UNPAD. Mungkin karena kampus-kampus tersebutlah menjadikan wilayah Jatinangor menjadi daerah pendidikan.
Kalau boleh saya katakan, Jatinangor antara ada dan tiada, jika kita perhatikan dari “Peta Wilayah Jawa Barat” dan kita amati dengan teliti, bahwa jatinangor tidak ada tercantum didalamnya, yang ada hanya cileunyi. Disamping itu, saya juga berpendapat, bahwa Jatinangor merupakan sebuah kota penghubung antara bandung dan sumedang, Sebab tidak wajar juga kalau wilayah Jatinangor yang seramai saat ini masih dikatakan sebuah desa (walaupun statusnya sebagai Kecamatan diwilayah kabupaten Sumedang). Tapi semua itu tergantung dari pribadi penilaian masing-masing.
Sebagai bagian dari masyarakat jatinangor, maka wajar jika saya membayangkan dan menilai kondisi tempat dimana saya tinggal sekarang. Nah, yang saya permasalahkan adalah; pertama, jatinangor merupakan sebuah desa kecamatan yang terpaksa mengikuti perkembangan zaman, berubah menjadi seperti sebuah kota Metropolitan. Atau dengan bahasa lain, Jatinangor adalah kota baru yang premature. Mengapa demikian, sebab hanya dengan selang waktu beberapa bulan atau tahun saja, sawah-sawah yang dulunya hijau menyegarkan mata dengan seketika berubah menjadi tembok-tembok yang menghalangi pandangan mata. Coba lihat dibeberapa daerah yang ada di Jatinangor, seperti ciseke, cibeusi, sukawening, ciawi, cikeruh, hegarmanah dan lainnya. Sekarang yang kita temukan disana sini bangunan tembok berdirian, jalan sudah disulap jadi pondokan, sawah sudah dirubah menjadi apartemen. Bukan ke-irian yang ada dalam dihati, tapi tidak lain hanyalah kesedihan dan kepriatinan. Sebab bukan masyarakat asli jatinangor yang menikmati perubahan ini, tetapi orang-orang luar yang memiliki kemampuan lebih yang menyulap semua itu. Kadang sebuah pertanyaan sering timbul dibenak saya, apakah ini merupakan sebuah keharusan dalam menikmati zaman atau sebuah arus KAPITALISME yang merambah kepelosok-pelosok pedesaan..?
Permasalahan kedua yang saya rasakan adalah, jatinangor merupakan kawasan Pendidikan. Kawasan pendidikan (Jatinangor, red) yang dulu sejak awal saya kuliah tahun 2003, dengan yang ada sekarang sudah sangat jauh berubah. Bagaimana tidak, bangunan-bangunan sekelas Mall Metropolitan sudah mulai memposisikan diri ditengah-tengah kawasan pendidikan ini, kalau posisinya kepinggiran saya fikir tidak masalah, tetapi ini diperbatasan antara STPDN-IKOPIN dan UNPAD-UNWIM, yaiu Padjadjaran Plaza dan Jatinangor Town Square.
Bukan ketidak inginan untuk menikmati kemajuan zaman, tetapi namun pemasalahan sosial yang terjadilah yang menjadi kekhawatiran. Disana-sini makin bertambah kriminalitas, kesenjangan kelas sosial, prostitusi, perdagangan narkoba, ingga tindakan keserakahan lainnya. Apakah bisa kita pastikan semua itu dapat diatasi jatinangor sebagai kota baru dilingkungan pendidikan yang tidak tertata dengan baik..? Itulah keresahan yang saya alami sebagai bagian dari masyarakat jatinangor. Sebab walaupun saya sebagai masyarakat yang berstatus menumpang, (bukan penduduk asli, red) tetapi tetap saja menjadi sebuah keresahan bagi saya dalam melihat perubahan dan perkembangan yang terjadi. Perubahan itu suatu keharusan memang, tetapi apabila perubahan itu tidak tertata dan terencana dengan baik, maka kita tidak akan mengetahui mau dibawa kemana Jatinangor ini nantinya. Menurut hemat saya, kepemimpinan tokoh pemerintaan Jatinangor sangat berperan untuk melakukan perbaikan dan pembangunan tersebut, hanya saja kita tidak merasakan keberadaan hal itu.
Dan yang terakir menjadi pertanyaan kita semua adalah, mengapa konsep pembangunan dan penataan Jatinangor hingga saat ini tidak ada kejelasan..? Sehingga proses pembangunan infrastruktur berjalan liar begitu saja..? Tanya Kenapa..? Jatinangor, May 2006.
