.:. KAMMI DAERAH SUMEDANG .:.

UncategorizedMay 6, 2009 1:00 am

Innalilahi wa innalilahi Rojiiun….
Telah berpulang ke Rahmatullah ibunda dari sahabat kita tercinta “Shalihah FKG 2007″ mohon doa untuk alm. ibunda shalihah dan dorongan semangat untuk shalihah..

>>>>LA TANSA SHALIHAH>>>>

nb: pagi ini beberapa orang sahabat berangkat ke Bogor untuk melayat dan kasih dorongan buat shalihah

UncategorizedMarch 21, 2009 8:51 am

Kammi Unpad hadir dalam Forum diskusi mahasiswa “Sehari bersama Perempuan” bertajuk “Kiprah Perempuan membangun Bangsa di Pemilu 2009. Peserta Acara ini seluruhnya perempuan, atau bisa dikatakan acara yang “akhwat only”. Topik diskusi yang dibahas adalah ” Perempuan dan Politik (kuota 30 %), mampukah lahirkan perubahan??.

Informasi di Baligho Acara dituliskan akan hadir 3 elemen kemahasiswaan (KAMMI, FMN, dan HTI) yang akan berdiskusi di forum ini. Namun saat acara berlangsung ada 4 elemen yang meramaikan forum diskusi ini yaitu Muslimah HTI (MHTI), KAMMI Unpad, Matras (Mahasiswa trans kampus merupakan gabungan mahasiswa HTI dari beberapa kampus seperti UNisba, UPI, dsb), dan Hima Ilmu Pemerintahan Unpad.

Untuk topik 30% yang dibahas Forum ini KAMMI Unpad sepakat bahwa tidak ada masalah dengan kuota 30 % di Legislatif. “Kammi mendukung sepenuhnya peran wanita dalam legislatif,” tutur Yunita Muthmainah, Ketua BKM KAmmi Eksak, saat diskusi berlangsung.

Kesemuanya juga menyadari bahwa masalah yang tengah dihadapi saat ini bukanlah masalah jumlah perempuan di legislatif melainkan seberapa besar peran perempuan untuk membuat lembaga legislatif jadi wadah yang lebih baik.

Tiap pembicara yang hadir pun melontarkan pemikirannya..

seperti bu Cucu Sari Purniawati
, selaku Caleg salah satu Parpol peserta pemilu berpandangan selama ini perempuan enggan untuk maju karena terlalu banyak di “dogma” bahwa politik itu kotor dan dan sama sekali tidak ada kebaikan di dalamnya.

sementara Antik Bintari selaku Akademisi dari Jurusan Ilmu Pemerintahan Fisip Unpad berpendapat kuota 30 % sebagai hal yang positif bagi peran perempuan di pemerintahan. Namun sayangnya proses rekrutmen yang buruk, hanya pada saat menjelang pemilu, membuat kualitas Caleg perempuan diragukan.

beda lagi dengan Ishmah Cholil, pengamat politik, yang berpandangan untuk peran Caleg perempuan, bahwa logika gender yang dipakai untuk aturan tsb adalah omong kosong..

namun sayangnya forum diskusi ini tidak membuahkan solusi bersama, hanya simpulan panitia saja yang dibacakan di akhir acara..

UncategorizedFebruary 8, 2009 10:35 am

Imbauan Soal Jaipong Dinilai Mengada-Ada

dari Okezone.com..

Sabtu, 7 Februari 2009 - 18:04 wib
BANDUNG - Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan mengimbau agar gaya dan penampilan pada tari Jaipong diperhalus. Hal ini ditanggapi beragam oleh pengamat dan tokoh seni di Jabar.

Seperti diungkapkan pelaku seni yang sudah lama berkecimpung di dunia seni tarik suara dan promotor seni Jaipong, Bangkit Sanjaya. Dia mengatakan, imbauan tersebut mengada-ada. Menurutnya, sangat tidak mungkin ada perubahan dalam tarian khas suku Sunda itu.

“Dari pendalaman undang-undang pornografi saja, tarian yang berbentuk tradisi itu sudah menjadi pakem dan tidak bisa diubah. Karena sifatnya tradisi, bagaimana mau mengubahnya, ada-ada saja Gubernur,” tutur Bangkit kepada wartawan usai mengumpulkan penyanyi Jalanan se-Bandung, di Warung Bandung, Sabtu (7/2/2009).

Dia menilai imbauan Gubernur Jabar itu sarat muatan politis menjelang pemilu yang sebentar lagi digelar.

“Jika setiap seni tradisi diubah penampilan dan karakternya, tidak hanya di Jabar saja seni tersebut, di seluruh Nusanntara pun banyak tarian yang pakaiannya minim tapi sopan,” tuturnya.

Bangkit menegaskan, tergantung dari segi apa si penonton melihat hal tersebut. “Ini juga bisa menjadi kepentingan politik, jika masyarakat tidak merespons imbauan yang merugikan tradisi budaya Jabar,” pungkas Bangkit. (lsi)

_Sebenarnya maksud dr himbauan itu untuk meminimalkan pengaruh dari dampak negative yg di akibatkan dr tarian ataupun kostum itu..
tidak ada unsur-unsur politik dlm hal ini, karena imbauan tsb adlh bentuk kepedulian Ahmad Heryawan,,
kita harus melihat dari segi positif nya..
bukan untuk mengebelakangkan budaya atau tradisi bangsa, tetapi untuk memperbaiki moral bangsa agar lebih baik lagi.. _
(sisca Uli_2007)